This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Wednesday, 4 September 2019

5 September 2019


Hari ini tepat satu tahun lalu, teringat saat akad nikah, berjabat tangan saat ijab qobul, yang begitu menggetarkan hati dan jiwaku. Kamu yang berada duduk  di sampingku mungkin merasakan apan yang aku rasakan pada saat itu.
Rasa syukur begitu haru saat pertama kali menyentuh tanganmu, dan mungkin kamu juga begitu saat pertama kali mencium tanganku. Tubuhkupun ini bergetar saat pertama kali memegang ubun-ubunmu seraya berdoa “ ya Allah, aku memohon kebaikan darinya dan kebaikan tabiat yang ia bawa, dan aku berlindung dari kejelekannya dan dari kejelekan tabiat yang ia bawa”
Syukurku kian memuncak saat mendapat kabar kehamilanmu. Tumpahan kebahagian itu serasa membuatku menjadi orang paling bahagia saat itu, hingga tak terasa butiran bening jatuh melewati pipiku.
“Alhadulillah, sebentar lagi aku menjadi seorang ayah” suara hati ku berbisik dalam nuansa kebahagian  saat itu. Dimasa kehamilanmu, aku banyak belajar. Belajar menjadi suami siaga, suami yang lebih perhatian lagi, bekerja lebih keras lagi dan banyak hal lainnya lagi yang itu mengajarkan pengalaman yang mungkin tidak pernah terlupakan.
Memasuki usia kandunganmu 8 bulan, dari hasil USG, posisi calon anak kita nyungsak (posisi kepala masih di atas), itu sempat membuat saya khawatir. Tetapi aku yakin dengan ikhtiar yang maksimal, posisinya berubah. Namun hingga memasuki usia kandungan 9 bulan, posisinya tetap sama ‘nyungsak’ walaupun sudah melakukan berbagai ikhtiar dan menjalan beberapa saran dari dokter. Al hasil, jalan terakhir harus di operasi Caesar.
Tepat tanggal 1 Agustus 2019, sesuai dengan perhitungan Hari Perkiraan Lahir (HPL), tepatnya pukul 18.00 WIB atau 19.00 WITA, kamu masuk ruang opreasi. Saat itu hatiku tidak karuan, hanya doa yang bisa kupanjatkan, semoga engkau dan calon anak kita selamat dua-duanya. Aku tidak hentinya-hentinya menatap layar HP ku seraya terur memanjatkan doa, menungku kabar darimu, karena pada saat itu aku tidak bisa menemanimu persalinan.
Dering HP ku berbunyi, tepat pukul 18.35 WIB atai 19.35 WITA, terlihat di layar tertulis Abi_ku, itu artinya bapak (mamiq) nelpon aku, berharap kabar yang akan diberikan kabar baik.
“Hallo” suara mamiq sedikit buru-buru
“Ya mamiq, kumbeke kabar da nak Ely dan anakku (gimana kabar kondisi istri dan anak saya)” suaraku sedikit penasaran sambil menahan nafas.
“Alhamdulillah selamat dan sehat dua-duanya” suara mamiq sedikit tenang
“Alhamdulillah”
Akupun langsung bersyujut syukur dan tak terasa air mata membasahi pipi ini.
Malam itu pun mamiq langsung mengirimkan foto anak kita, serasa tidak percaya, aku sudah menjadi seorang ayah. Serasa bahagianya tiada tara saat itu. Hanya ucapan syukur yanb bisa dilantunkan.
Tanpa pikir panjang, akupun langsung memesan tiket untuk pulang esok lusa.
Dalam perjalanan pulang ingin sekali kaki ini cepat menginjak tanak lombok, serasa ingin secepat kilat. Apalagi ditambah jadwal pesawat yang delay 1 jam. Bikin pikiran semakin tidak karuan.
Tepat pukul 23.00 aku mendarat dengan selamat dan satu jam kemudian akhirnya aku sampai ke rumah. Rasa haru saat pertama kali mencium anakku, yang selama ini hanya bisa melihat gerakan tubuhnya lewat USG.
Alhamdulillah syukur tiada tara.
Istriku, maaf tidak bisa memberikan hadiah barang untukmu di hari ini, semoga tulisan ini sedikit bisa mengobati rasa rindu yang kau pendam.
Sedikit puisi untukmu semoga engkau suka

Istriku...
Jika kecupku harus pulang...
Maka ia hanya akan pulang dikeningmu...
Karena disitulah rumah baginya....
Istriku...
Jika pelukanku harus pergi...
Ia hanya akan tau ke satu arah mana ia menuju, hanya ke dekapanmu...
Karena hanya disitulah ia dimengerti...
Istriku...
Jika rinduku harus meruntuh...
Ia akan jatuh ke dekat namamu...
Karena hanya disanalah tempat ia mampu nyenyak tertidur diantara damai-damai yang kau timang...
Istriku...
Jika hatiku harus mengalir...
Ia akan keras mengalir memaksa angin untuk bertiup ke arah hatimu...
Karena ia tahu, di sanalah ia mampu tenang berdiam...
Istriku...
jika doaku harus berbisik diantara sunyinya malam...
selalau namamu yang dieja diantara puluhan pinta...
karena kuberharap dengan sepotong doa itu...
untuk sebuah sebuah asa, syakinah terus bersamamu...
Istriku...
Jika cintaku harus menua dan mati...
Ia hanya ingin menua bersamamu...
Cinta yang akan mengantarkan aku kelak tuk renta dan menjumpa lagi di syurga...

Istriku...
Maaf, kalau aku mencintaimu dengan sederhana....
Sesederhana tiupan angin saat mengirim pesan pada awan...
Yang merubah menjadi titik-titik  hujan...
Lalu titik-titik air hujan itu disinari dengan hangatnya cahaya mentari...
Dan dari perpaduan itu, muncullah biasan 7 warna yang kusebut dengan pelangi cinta....

Istriku...
Aku dan kamu tak pernah tau jatah hidup bersamamu...
Tapi, yang ku tahu adalah aku ingin menjadi imam yang terbaik buatmu...
Hingga syurga tempat kita berkumpul kembali...

Sunday, 10 March 2019

E-Training DOGMIT Indonesia, Training Guru Zaman Now


Di era milenial sekarang ini guru tidak hanya sebagai pusat informasi, tetapi juga sebagai fasilitator dalam peroses pembelajaran. Guru dituntut untuk menciptakan pembelajaran yang bisa memfasilitasi peroses belajar siswa. Salah satunya memanfaatkan media-media yang berbasis audiovisual. Namun untuk menciptakan itu semua, tidak semua guru bisa membuatnya. Harus punya skill terutama ilmu komputer. Tidak hanya gaptek teknologi, keterbatasan waktu untuk mempelajarinya juga terbatas. Sebagai alternatif, guru harus mengikuti berbagai training atau workshop untuk bisa menjawab tuntutan tersebut. Tetapi yang jadi masalah, ketika kita sering mengikuti wokrshop di luar, akan berimbas terhadap program belajar yang sudah di susun pada administrasi guru itu sendiri. Sebab waktu yang seharusnya dipakai untuk mengajar, digunakan untuk mencari tambahan ilmu mengikuti training atau workshop. Terus solusinya bagaimana?

Dengan perkembangan teknologi, untuk mengikuti training atau workshop tidak harus datang ke lokasi. Salah satu solusinya adalah mengikuti training berbasis online. Selain waktunya yang fleksibel, tentunya kewajiban kita sebagai guru mengajar di sekolah tidak terbengkalai dan yang pasti hemat tenaga serta biaya. E-training Dogmit Indonesia misalnya, salah satu penyedia jasa training berbasis online. E-training Dogmit Indonesia ini menjadi alternatif bagi guru yang ingin belajar tambahan terkiat dengan media pembelajaran dan tentunya sesuai dengan perkembangan teknologi sekarang ini.

E-Training DOMIT Indonesia merupakan salah satu wadah bagi guru yang ingin menambah wawasan dalam bentuk training. Karena sifatnya yang berbasis online, guru tidak perlu khawatir meninggalkan tugas utamanya, yaitu mengajar. Karena waktunya sudah pasti fleksibel mengikuti waktu luang guru yang belajar. Selain itu juga, program yang ditawarkan juga sesuai dengan kebutuhan di era milenial sekarang ini.

Tak hanya itu, dengan durasi waktu 10 hari per trainingnya dengan harga yang cukup terjangkau, tentunya akan membuat hasilnya akan lebih maksimal. Dengan bimbingan mentor yang cukup berpengalaman dan urutan materi yang begitu runtun, sehingga diharapkan peserta yang bisa belajar dari awal sampai bisa mahir.

Sunday, 28 May 2017

Senyum Sumringah di Bulan Berkah


Ramadhan,  senang sekali bisa menjumpaimu tahun ini. Engkau selalu membawa hal-hal khas dan istimewa. Dan itu yang selalu membuatku menantimu. Walaupun ramadhan tahun ini aku berada di tanah rantau,tapi tak menguragi kekhusuan ibadah puasaku.
Ramadhan, mudah-mudahan yang ku dapatkan tahun ini bukan hanya lapar dan dahaga, tapi juga pengampunan dan pemahaman. Dan semoga setelah engkau berlalu, aku bisa menjadi insan yang muttaqin... aminnn

Bulan ramadhan adalah bulan yang selalu dinanti-nanti oleh setiap muslim di seluruh penjuru dunia. Dengan sejuta pesona keberkahannya, ramadhan selalu menjadi moment istimewa bagi setiap insan yang melaksanakknya. Dan itu artinya senyum sumringah pun tentunya menghiasai wajah kita.
Tak terasa kita sudah memasuki ramadhan di tahun 1438 H (2017 M). Tentunya ada rasa suka cita dengan datangnya tamu agung ini. Semoga ramadhan tahun ini jauh lebih baik dari ramadhan sebelumnya. Oh ya... gimana suasana puasa? Mudah-mudahan lancar tidak ada kendala sedikutpun. Dan semoga bagi yang masih menemui kendala dalam melaksanakan puasa tahun ini supaya segera diberi kemudahan oleh Allah SWT. Amiiinnn

Kali ini saya ingin mengupas sedikit tentang kenapa sih kita harus bahagia dan bersuka cita dengan datangnya bulan Ramadhan? He... he... he... hanya ingin berbagi berdasarkan pengalaman pribadi. 

Rasa senang dan bahagia dengan datangnya bulan Ramadhan menghapiri semua jenjang usia dan kalangan, baik anak-anak, remaja orang tua, saudagar, de el el. Namun yang jadi pertanyaan adalah, rasa senang kita termasuk kelompok jenjang yang mana?

Apakah rasa senang kita menyambut ramadhan seperti ilustrasi gambar berikut ini?


Sedikit cerita. Dulu ketika masa SD, saat diamana masa-masa belajar berpuasa. Bagi anak seusia kami waktu itu, momen bermain petasan di jalanan setiap pulang tarawih, dikejar-kejar orang dan bahkan ada yang masuk comberan adalah hal yang sungguh membahagiaan. Jika malamnya bermain petasan, berbeda dengan sore hainya, yaitu bermain meriam minyak tanah. semakin
Selain itu juga, saat menjelang sahur, bersama teman-teman yang lain ikut serta membangunkan orang untuk sahur. Bermodalkan kaleng dan botol bekas, antusias membunyikan benda-benda tersebut. Walaupun terkadang menghasilkan nada yang sumbang dan tak enak di dengar telinga. Tak jarang kami diomelin oleh beberapa warga dan bahkan ada yang disiram untuk membubarkan kami. Pokoknya seru banget deh.

Ataukah mungkin bahagiannya datangnya ramadhan karena hal seperti ini? Akan banyak makan enak disetiap berbuka.


Ataukah jika kita senang datangnya bulan Ramdhan karena bisa jualan sirup, kolak atau baju lebaran, itu tandanya jiwa ramadhan kita seperti saudagar. Gak ada salah nya sih, itukan cari rezeki. He.... Tapi tentuya ada hal yang jauh lebih dahsyat dari pada itu.

 Terlepas dari itu, apa sih alasannya kenapa kita harus senang dengan datangnya bulan ramadhan? Yuk kita ulas....
Pertama : Bahagia karena Ramadhan adalah bulan pengampunan.
Sebagai manusia biasa tentunya kita tak luput dari dosa. dan tentunya setiap orang ingin dosanya diampuni. Salah satu pelebur dosa adalah dengan ibadah puasa. Sebagai mana Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai berikut :
“Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala (ridha Allah), maka diampuni dosa-dosanya yang terdahulu (HR. Bukhari)”
Selain itu juga, setan-setan dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup dan Pintu-pintu Surga dibuka Ketika Ramadhan Tiba
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
”Apabila Ramadhan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan pun dibelenggu”
Al Qodhi ‘Iyadh mengatakan, “Hadits di atas dapat bermakna, terbukanya pintu surga dan tertutupnya pintu Jahannam dan terbelenggunya setan-setan sebagai tanda masuknya bulan Ramadhan dan mulianya bulan tersebut.” Lanjut Al Qodhi ‘Iyadh, “Juga dapat bermakna terbukanya pintu surga karena Allah memudahkan berbagai ketaatan pada hamba-Nya di bulan Ramadhan seperti puasa dan shalat malam. Hal ini berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Di bulan Ramadhan, orang akan lebih sibuk melakukan kebaikan daripada melakukan hal maksiat. Inilah sebab mereka dapat memasuki surga dan pintunya. Sedangkan tertutupnya pintu neraka dan terbelenggunya setan, inilah yang mengakibatkan seseorang mudah menjauhi maksiat ketika itu.”
Kedua : Bulan Ramadhan adalah Salah Satu Waktu Dikabulkannya Do’a
Buat yang banyak hajatnya, maka bulan puasa adalah salah satu momen untuk berdoa sebagai mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
”Sesungguhnya Allah membebaskan beberapa orang dari api neraka pada setiap hari di bulan Ramadhan,dan setiap muslim apabila dia memanjatkan do’a maka pasti dikabulkan”
Selain itu juga, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Tiga orang yang do’anya tidak tertolak: orang yang berpuasa sampai ia berbuka, pemimpin yang adil, dan do’a orang yang dizholimi”
An Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Hadits ini menunjukkan bahwa disunnahkan bagi orang yang berpuasa untuk berdo’a dari awal ia berpuasa hingga akhirnya karena ia dinamakan orang yang berpuasa ketika itu.An Nawawi rahimahullah mengatakan pula, “Disunnahkan bagi orang yang berpuasa ketika ia dalam keadaan berpuasa untuk berdo’a demi keperluan akhirat dan dunianya, juga pada perkara yang ia sukai serta jangan lupa pula untuk mendoakan kaum muslimin lainnya.”
Membaca penjelasan itu, senyum sumringah pun makin terasa lebar.... asyikkk
Ketiga : Terdapat Malam yang Penuh Kemuliaan dan Keberkahan
Salah satu yang paling spesial dibulan ramadhan adalah bonus pahala yang begitu buanyakkkk. Pada bulan ramadhan terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan yaitu lailatul qadar (malam kemuliaan). Pada malam inilah –yaitu 10 hari terakhir di bulan Ramadhan- saat diturunkannya Al Qur’anul Karim.
Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman dalam QS. Al Qadr: 1-3,
”Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada lailatul qadar (malam kemuliaan). Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.”
Dan Allah Ta’ala juga berfirman,
”Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.” (QS. Ad Dukhan: 3).
 Yang dimaksud malam yang diberkahi di sini adalah malam lailatul qadr. Inilah pendapat yang dikuatkan oleh Ibnu Jarir Ath Thobari rahimahullah. Inilah yang menjadi pendapat mayoritas ulama di antaranya Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma.
Selain ketiga poin tersebut, tentunya masih banyak lagi keistimewaan Ramadhan yang bikin sumringah diantaranya adalah bulan ramdhan adalah bulan diturunkannya Al-qur’an yang perumakan pedoman hidup bagi ummat muslim.
So... ketika ramadan sudah menghampiri kita, jangan sia-siakan kesempatan untuk memperbanyak amal sholeh agar kita menjadi insan yang muttaqin.... aminnn

Friday, 31 March 2017

Teladan Dari Sorang “Buya Hamka”


Banyak sekali kisah tokoh-tokoh hebat  yang layak untuk mengeluh, pantas untuk menangis, berhak untuk mengadu. Tetapi mereka tidak melakukan semua itu. Mereka memilih untuk tegar dan melewati masa-masa sulit dengan upaya sepenuh jiwa bahkan menjadi teladan bagi orang-orang disekitarnya selama hidupnya.
Dan salah satau tokoh yang sangat luar biasa adalah kisah Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih dikenal “Buya Hamka”. Beliau memiliki banyak hal yang bisa diteladani untuk generasi berikutnya. Beliau adalah seorang ulama dan juga seorang tokoh pejuang terdepan yang memimpin perjuangan mengusir penjajah. Beliau juga seorang pemimpin yang bisa menyatukan dan dimakmumi orang disekitarnya. Beliaupun sosok ayah yang sangat perhatian dengan perkembangan pendidikan anak-anaknya.
Kepemimpinan beliau selaku imam rumah tangga menjadi garda terdepan dalam membangun keluarga yang sakinah mawadah warohmah. Ketokohan beliau bukan hanya dikenal sebagai ulama besar, melainkan juga sebagai sastrawan, budayawan, politisi, cendikiawan, pejuang dan pemimpin umat. Keteladanan hidup beliau dimulai dari membangun pondasi terkecil, yaitu keluarganya. Beliau menjadi sosok panutan bagi istri dan anak-anaknya.
Kisah shahih tentang Buya Hamka bisa kita baca pada buku “AYAH”. Sejarah hidup beliau menjadi lebih terjamin kebenarannya disebabkan buku itu ditulis oleh orang terdekat dengannya, anaknya Irfan Hamka. Buku yang berbentuk novel biografi ini ditulis dengan gaya bahasa menarik, mudah dipahami dan sarat akan nasihat yang bisa kita jadikan teladan dalam kehidupan sekarang ini. Keotentikan tutur  menjadi penting, karena hari ini begitu banyak cerita kosong dengan tokoh fiktif disuguhi yang bisa merusak mental dan pikiran.
Buya Hamka juga menjadi sosok ayah teladan bagi kedua belas putra-putrinya, menjadi guru mengaji, guru silat (bela diri) hingga menjadi suami yang bijak. Akhlak Buya Hamka tercermin juga dalam diri akhlak Hajah Siti Raham Rasul (istrinya) yang cinta silaturahim dan bersosialisasi dengan masyarakat.
Buya Hamka merupakan tokoh Indonesia pertama yang menerima gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Al-Azhar. Dunia literasi sangat melekat dalam karakter pribadi beliau. Meski tidak tamat pendidikan formal. Kegigihan semangat belajar Buya Hamka tak pernah pudar. Lalu belajar dengan tokoh dan ulama baik saat di Sumatera, Jawa hingga sampai ke Mekkah, Saudia Arabia. Kecintaannya beliau dalam menulis menghasilkan puluhan bahkan ratusan karya tulis baik dalam bentuk majalah, surat kabar hingga buku. Selain itu, ada lagi karya paling fenomenalnya yaitu tafsir Al-Qur’an 30 juz yang diberi nama Tafsir Al-Azhar yang dibuatnya saat beliau dalam penjara karena difitnah.
Dan buat generasi hari ini, buku ini mengisahkan bahwa beliau seorang pembelajar sejati yang sangat mencintai ilmu. Beliau bersusah-susah melahap banyak buku bahkan diusia mudanya, 13-14 tahun, beliau membaca karya dari pemikir muslim seperti Syekh Al Afgahni dan Syekh Muhammad Abduh.
Dalam buku ini juga diceritakan tentang kisah Buya Hamka berdamai dengan jin, kisah Si Kuning (kucing kesayangan beliau yang selalu mengikutinya), perjalanan haji ke Mekkah dengan Kapal Mae Abeto, perjalanan maut saat berada di Saudi Arabia, hasil karya dan beberapa kisah hingga kejadian wafatnya Buya Hamka. Semua itu penuh dengan hikmah dan nasihat.

Saturday, 26 March 2016

Masihkan UN menjadi momok yang Menakutkan?


Bagi dunia pendidikan, terutma jenjang pendidikan dasar sampai menengah, bulan April sampai bulan Mei merupakan masa dimana para siswa harus melewati salah satu rintangan besar yaitu Ujian Nasional (UN).


Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa pendidikan memang menjadi aspek yang sangat sentral lagi fundamental bagi terbentuknya sebuah peradaban dan kegemilangan suatu bangsa. Perbincangan soal pendidikan pun seperti deburan ombak lautan yang tak pernah surut dari terpaan arus problematika. Masih saja ada yang salah dalam sistem pendidikan negeri ini. Sepertinya, apa yang telah diupayakan pemerintah untuk perbaikan pendidikan bangsa tidaklah pernah benar di mata para pemerhati pendidikan.
Fenomena ini lebih diperparah ketika datangnya berita tentang UN (Ujian Nasional). Ujian Nasional hadir layaknya monster yang menakutkan bagi para siswa. Berapa banyak siswa yang stress gara-gara menghadapi UN? Tidak hanya siswa, bahkan orang tua dan gurupun ikut-ikutan stress.
UN, menakutkan kah?
Menurut berbagai sumber, Ujian Nasional biasa disingkat UN / UNAS adalah sistem evaluasi standar pendidikan dasar dan menengah secara nasional dan persamaan mutu tingkat pendidikan antar daerah yang dilakukan oleh Pusat Penilaian Pendidikan, Depdiknas di Indonesia berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 menyatakan bahwa dalam rangka pengendalian mutu pendidikan secara nasional dilakukan evaluasi sebagai bentuk akuntabilitas penyelenggara pendidikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Lebih lanjut dinyatakan bahwa evaluasi dilakukan oleh lembaga yang mandiri secara berkala, menyeluruh, transparan, dan sistematik untuk menilai pencapaian standar nasional pendidikan dan proses pemantauan evaluasi tersebut harus dilakukan secara berkesinambungan.
Proses pemantauan evaluasi tersebut dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan pada akhirnya akan dapat membenahi mutu pendidikan. Pembenahan mutu pendidikan dimulai dengan penentuan standar.
Pertanyaan mendasar yang perlu diungkapkan dalam menyoroti pendidikan bangsa adalah, apakah Ujian Nasional masihkah menjadi momok yang begitu mengerikan bagi para siswa?
Untuk menjawab pertanyaan di atas, ada baiknya jika dikemukakan pernyataan Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhammad Nuh, yang menyempatkan dirinya untuk menyampaikan pesan sekaligus memberi semangat bagi para siswa yang akan menjalankan Ujian Nasional. “Yang pertama, tanamkan rasa percaya diri dan optimisme agar dapat mengerjakan soal dengan baik”.
Jika ditelaah lebih jauh, mengapa Ujian Nasional itu menjadi momok yang begitu menakutkan bagi para siswa, maka akan dijumpai beberapa hal yang seringkali menjadi alasan logis akan ketakutannya pada UN ini. Misalnya  jika gagal dalam UN maka siswa akan malu sepanjang hidupnya, UN seakan-akan menjadi ujian finish bagi kehidupan siswa, siswa yang tidak lulus dalam UN, maka dia tidak bisa melanjutkan belajarnya ke jenjang lebih tinggi. Teapi aturan tersebut merupakan aturan yang masih berlaku ketika Muhammad Nuh menjadi mendikbut. Sejak adanya aturan baru mulai dari tahun 2015, UN bukan penentu kelulusan siswa tetapi hanya sebagai acuan informasi pendidikan di Indonesia.
Jika aturan tersebut masih terpakai, bayangkan, para siswa yang menghabiskan waktunya selama bertahun-tahun untuk mengenyam pendidikan kini masa depannya harus rela untuk dipertaruhkan dengan hanya ujian beberapa hari. Lebih parahnya lagi, pertaruhan yang kerapkali menjadikan para siswa stress itu hanya dihargai dengan selembar kertas. Selembar kertas yang terkadang tidak bisa membantu apa-apa untuk bekal hidupnya, atau bahkan hanya menjadi hiasan yang terpajang di almari saja.
Perbedaan UN di Indonesia dengan Negara lain?
Sebelum adanya perombakan Ujian Nasional yang ada di Indonesia, Ujian Nasional itu seperti perampok yang siap untuk merenggut kebahagiaan siswa. Jika dicermati lebih mendalam, UN yang diterapkan di negeri ini menjadi sistem evaluasi yang terkesan timpang bagi para siswa.
UN terkesan timpang karena sudah tersetting sedemikian rupa oleh Pemerintah. Diantaranya dengan menetapkan kriteria soal yang sama bagi semua instansi pendidikan yang ada di Indonesia. Padahal, tidak semua sarana dan prasarana yang ada di setiap instansi pendidikan itu sama. Hal ini terkesan, UN itu hanya menguntungkan segolongan pihak saja, yakni sekolah-sekolah yang memiliki sarana dan prasarana yang memadai serta memiliki pengajar yang berkualitas. Umumnya, sekolah berlabel sekolah unggullah yang diuntungkan.
Mungkin ada baiknya jika sistem pendidikan yang diterapkan di negeri ini belajar dari sistem Finlandia yang menjadikan Ujian Nasional bukanlah sebagai momok yang menakutkan. Akan tetapi, Ujian Nasional itu digelar hanya untuk pemetaan. Hasilnya pun kemudian diinformasikan hanya kepada pihak sekolah dalam rangka perbaikan.
Menarik memang sistem yang diterapkan oleh negeri asal Nokia dan Angry Birds ini. Mengingat negeri tersebut adalah termasuk dalam kategori negeri yang memiliki sistem pendidikan yang menjadi sentral perhatian dunia karena keberhasilannya dalam reformasi pendidikan.
Ada baiknya jika para elit penguasa negeri ini melakukan reformasi besar-besaran untuk perbaikan mutu pendidikan bangsa, mungkin di antaranya adalah dengan memperbincangkan kembali sistem Ujian Nasional yang hanya bisa menekan siswa menjadi sistem yang ramah bagi efektifitas pengajaran siswa.
Dari data produk binaan Ujian Nasional yang ada, berapa banyak Ujian Nasional yang mengekang itu melahirkan pengangguran-pengangguran baru di tubuh bangsa. Melihat hal itu, sudah sepantasnya pemerintah negeri ini melakukan reformulasi terhadap konsep Ujian Nasional yang hanya bersifat mengekang seperti yang terlihat dewasa ini menjadi ujian yang ramah bagi siswa. Harapannya, dengan cara yang bersahabat tersebut pendidikan bangsa ini akan menghasilkan produk-produk yang bekualitas.
Sekarang, UN bukan untuk ditakuti!
Bisa dibilang, sejak tahun 2015 siswa lebih beruntung dari pada generasi sebelumnya. Paselnya Ujian Nasional di Tahun ini tidak lagi digunakan sebagai penentu kelulusan siswa. Kewenangan ini sepenuhnya diserahkan kepada sekolah.
Sehingga dengan demikian otonomi penetapan kelulusan siswa sejak UN 2015 adalah menjadi hak sekolah karena selama tiga tahun menempuh pendidikan. Dimana dalam hal ini guru mengamati dan menilai seluruh kompetensi siswa.
Dari sanalah guru kemudian dapat menetapkan apakah siswa tersebut pantas lulus atau belum. Meskipun sekolah yang sepenuhnya menentukan kelulusan siswa, namun Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) menetapkan nilai standar minimal kelulusan yang harus diacu oleh sekolah.  Untuk dinyatakan lulus UN 2016, siswa setidaknya memenuhi nilai 5,5 untuk setiap mata pelajaran dan rata-rata minimal 5,5. Ketentuan ini dituangkan dalam prosedur operasi standar (POS) yang disusun oleh BSNP.
Nilai akhir itu ditetapkan dari gabungan antara nilai rapor dan nilai ujian sekolah. Nilai inilah yang menjadi syarat kelulusan siswa. UN Tahun 2015 ini adalah untuk pemetaan yang mana kelulusan setiap peserta didik 100 persen ditentukan oleh sekolah melalui Ujian Akhir Sekolah/Madrasah.  Namun demikian, hasil nilai Ujian Nasional peserta didik akan digunakan sebagai salah satu pertimbangan dalam melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi.[]

Thursday, 8 October 2015

Mengejar Impian di bawah Kolong Rumah

Udara pagi menyela-nyela tiang rumah yang sudah mulai usang. Terlihat anak-anak dengan seragam merah putihnya berlarian dan saling berlarian di antara tiang yang berada tepat di bawah kolong rumah tersebut. Terpal putih melingkar menghiasi setiap sudut di kolong itu. Beberapa jejeran meja dan kursi tertancap diantara tiang. Papan tulis warna hitam mulai memudar dengan beberapa batang kapur beserakan di meja guru Ya, mereka adalah siswa-siswi kelas jauh dari SDN 022 Piriang yang berada di dusun Sarre desa Piriang Tapiko Kecamatan Tutar sedang menunggu guru untuk belajar.
Kelas mereka berbeda dengan kelas sekolah lainnya. Jika ditempat lain, kelas sekolahnya terbuat dari tembok batu-bata atau papan dengan warna yang cerah dan hiasan-hiasan menarik, tetapi mereka hanya berlapiskan terpal putih yang seharusnya dijadikan tempat untuk menjemur padi atau coklak. Kata Abdul Kadir selaku Kepala sekolah SDN 022 Piriang, kelas jauh ini dibangun dikarenakan jarak tempun antara dusun Sarre dan Pirian cukup jauh dan menananjak bagi anak-anak seusia 7-9 tahun yaitu sekitar 3,5 km dengan kondisi jalan yang terjar dan melewati hutan serta perbukitan.

Belajar di bawah Kolong Rumah
“Anak hebat” seru Hakkin relawan Sekolah Guru Indonesia-Dompet Dhuafa memanggil siswa-siswi ketika mengunjungi kelas jaauh ini. “Siap” jawab serempak anak-anak tersebut. Ketika berkunjung dan mencoba mengisi pempelajarn disini, terkuak betapa mereka haus akan ilmu pengetahun dan belajar. Tak ada guru PNS di kelas jauh ini. Hanya ada dua guru honorer saja yang sering mengajar mereka. Tak terlihat satupun fasilitas pendukung di kelas ini misalnya buku paket. Mereka belajarnya seadanya saja. Kata salah seorang guru yang penting mereka bisa belajar dan bisa membaca, menulis dan berhitung (calistung).
Di kelas jauh ini, hanya ada 17 siswa yang belajar dan terbagi menjadi 3 jenjang kelas, yaitu kelas I  sebanyak 7 orang, kelas II dan kelas III masing-masing 5 orang. Kondisi tempat merekapun cukup terbilang berbahaya, pasalnya kondisinya yang tepat berada di bawah kolong rumah dimana kayu-kayunya sudah mulai usang dan lapuk. Debu yang selalu beterbangan seketika mengancam kesehatan pernapasan mereka. “Bagainama perasaan kalian belajar di tempat ini” Tanya guru hakkin. “sangat senang pak, apalagi ada pak hakkin” serempak mereka menjawab. Mereka tak peduli sedikitpun akan keselamatnya yang pada saat tertentu bisa mengancam jiwa.
Selain itu juga, posisinya yang berada di seberang jurang, semakin mengancam keselatan mereka. Tak ada perasaan was-was sedikitpun ketika bermain bersama berlarian dan bekejaran satu sama lain. Hanya ada kecerrian dan kesungguhan untuk belajar.

Kami Punya Mimpi Besar
“Apa cita-cita kalian nanti kalau sudah besar” tannya guru Hakkin kepada anak-anak itu ketika menyelingi pembelajaran. Dengan malu-malu mereka tersenyum manis seolah ingin mengeluarkan sesuatu yang besar. Setelah didekati, akhirnya mereka pun mau menyebutkan cita-cita mereka satu persatu. Dengan polos mereka memiliki banyak jawaban. Adanya pengin jadi dokter, pengusaha, guru, polisi, dll.
“Apa yang harus kalian lakukan agar cita-cita kalian bisa terwujud” guru Hakkin lanjut bertanya. Dengan spontan beberapa anak kelas I menjawab “harus rajin belajar pak guru” meski pun hanya petani coklat tapi mereka tak patah sengat untuk terus belajar dan meraih impian-impianya. Dari pengamatan yang saya dapatkan, akhirnya saya memutuskan untuk mengambil moment membangun impian lewat sebuah coretan kecil karya dari mereka sendiri. Dengan beberapa kertas kosong yang saya siapkan, merekapun saya suruh untuk menulis impan-impinnya. Dengan antusias tangan mungil yang berusaha menulis impian-impiannya jadi belepotan dengan pewarna crayon. Tak jarang coretan-coretanpun terjadi sehingga kertasnya harus diganti.
Selesai menulis impian, sayapun mengajak mereka untuk membentuk bintang dari tulisan impian tersebut kemudian menggantungnya diatara kayu-kayu papan di bawah kolang rumah tempat mereka belajar. Merekapu berebutan tempat yang terbaik agar tidak cepat hilang. Di
Dengan segala keterbatasn fasilitas sekolah dan guru, mereka selalu ceria. Tak heran jika mereka tak pernah alpa untuk masuk sekolah walaupun belajarnya hanya di bawah kolong rumah. Yang bisa saya tangkap dari mereka adalah tempat tak menjadi masalah yang penting intiya adalah belajar dengan sungguh-sungguh. Buat apa belajar di gedung mewah kalau akhirnya hanya bermain-main saja tanpa ada kesunguhan.


akhir sesi, saya memberikan mereka penguatan tentang impian dan cita-cita.