Hari ini tepat
satu tahun lalu, teringat saat akad nikah, berjabat tangan saat ijab qobul,
yang begitu menggetarkan hati dan jiwaku. Kamu yang berada duduk di sampingku mungkin merasakan apan yang aku
rasakan pada saat itu.
Rasa syukur
begitu haru saat pertama kali menyentuh tanganmu, dan mungkin kamu juga begitu
saat pertama kali mencium tanganku. Tubuhkupun ini bergetar saat pertama kali
memegang ubun-ubunmu seraya berdoa “ ya Allah, aku memohon kebaikan darinya dan
kebaikan tabiat yang ia bawa, dan aku berlindung dari kejelekannya dan dari
kejelekan tabiat yang ia bawa”
Syukurku kian
memuncak saat mendapat kabar kehamilanmu. Tumpahan kebahagian itu serasa
membuatku menjadi orang paling bahagia saat itu, hingga tak terasa butiran
bening jatuh melewati pipiku.
“Alhadulillah,
sebentar lagi aku menjadi seorang ayah” suara hati ku berbisik dalam nuansa
kebahagian saat itu. Dimasa kehamilanmu,
aku banyak belajar. Belajar menjadi suami siaga, suami yang lebih perhatian
lagi, bekerja lebih keras lagi dan banyak hal lainnya lagi yang itu mengajarkan
pengalaman yang mungkin tidak pernah terlupakan.
Memasuki usia
kandunganmu 8 bulan, dari hasil USG, posisi calon anak kita nyungsak (posisi
kepala masih di atas), itu sempat membuat saya khawatir. Tetapi aku yakin dengan ikhtiar yang maksimal, posisinya berubah. Namun hingga memasuki
usia kandungan 9 bulan, posisinya tetap sama ‘nyungsak’ walaupun sudah
melakukan berbagai ikhtiar dan menjalan beberapa saran dari dokter. Al hasil, jalan
terakhir harus di operasi Caesar.
Tepat tanggal 1
Agustus 2019, sesuai dengan perhitungan Hari Perkiraan Lahir (HPL), tepatnya
pukul 18.00 WIB atau 19.00 WITA, kamu masuk ruang opreasi. Saat itu hatiku
tidak karuan, hanya doa yang bisa kupanjatkan, semoga engkau dan calon anak
kita selamat dua-duanya. Aku tidak hentinya-hentinya menatap layar HP ku seraya
terur memanjatkan doa, menungku kabar darimu, karena pada saat itu aku tidak
bisa menemanimu persalinan.
Dering HP ku
berbunyi, tepat pukul 18.35 WIB atai 19.35 WITA, terlihat di layar tertulis Abi_ku,
itu artinya bapak (mamiq) nelpon aku, berharap kabar yang akan diberikan kabar
baik.
“Hallo” suara
mamiq sedikit buru-buru
“Ya mamiq, kumbeke
kabar da nak Ely dan anakku (gimana kabar kondisi istri dan anak saya)”
suaraku sedikit penasaran sambil menahan nafas.
“Alhamdulillah
selamat dan sehat dua-duanya” suara mamiq sedikit tenang
“Alhamdulillah”
Akupun langsung
bersyujut syukur dan tak terasa air mata membasahi pipi ini.
Malam itu pun
mamiq langsung mengirimkan foto anak kita, serasa tidak percaya, aku sudah menjadi
seorang ayah. Serasa bahagianya tiada tara saat itu. Hanya ucapan syukur yanb bisa dilantunkan.
Tanpa pikir
panjang, akupun langsung memesan tiket untuk pulang esok lusa.
Dalam perjalanan
pulang ingin sekali kaki ini cepat menginjak tanak lombok, serasa ingin secepat
kilat. Apalagi ditambah jadwal pesawat yang delay 1 jam. Bikin pikiran semakin
tidak karuan.
Tepat pukul 23.00
aku mendarat dengan selamat dan satu jam kemudian akhirnya aku sampai ke rumah.
Rasa haru saat pertama kali mencium anakku, yang selama ini hanya bisa melihat
gerakan tubuhnya lewat USG.
Alhamdulillah
syukur tiada tara.
Istriku, maaf
tidak bisa memberikan hadiah barang untukmu di hari ini, semoga tulisan ini sedikit
bisa mengobati rasa rindu yang kau pendam.
Sedikit puisi
untukmu semoga engkau suka
Istriku...
Jika kecupku
harus pulang...
Maka ia hanya
akan pulang dikeningmu...
Karena
disitulah rumah baginya....
Istriku...
Jika pelukanku
harus pergi...
Ia hanya akan
tau ke satu arah mana ia menuju, hanya ke dekapanmu...
Karena hanya
disitulah ia dimengerti...
Istriku...
Jika rinduku
harus meruntuh...
Ia akan jatuh
ke dekat namamu...
Karena hanya
disanalah tempat ia mampu nyenyak tertidur diantara damai-damai yang kau
timang...
Istriku...
Jika hatiku
harus mengalir...
Ia akan keras
mengalir memaksa angin untuk bertiup ke arah hatimu...
Karena ia tahu,
di sanalah ia mampu tenang berdiam...
Istriku...
jika doaku
harus berbisik diantara sunyinya malam...
selalau namamu
yang dieja diantara puluhan pinta...
karena
kuberharap dengan sepotong doa itu...
untuk sebuah sebuah asa, syakinah terus bersamamu...
Istriku...
Jika cintaku
harus menua dan mati...
Ia hanya ingin menua
bersamamu...
Cinta yang akan
mengantarkan aku kelak tuk renta dan menjumpa lagi di syurga...
Istriku...
Maaf, kalau aku
mencintaimu dengan sederhana....
Sesederhana
tiupan angin saat mengirim pesan pada awan...
Yang merubah
menjadi titik-titik hujan...
Lalu
titik-titik air hujan itu disinari dengan hangatnya cahaya mentari...
Dan dari
perpaduan itu, muncullah biasan 7 warna yang kusebut dengan pelangi cinta....
Istriku...
Aku dan kamu
tak pernah tau jatah hidup bersamamu...
Tapi, yang ku
tahu adalah aku ingin menjadi imam yang terbaik buatmu...
Hingga syurga
tempat kita berkumpul kembali...
























