Haparan awan putih dan biru bercampur hijau
membentang sejauh mata memanadang. Gundukan-gundukan bukit nempak menjulang
tinggi ketika tepat berada di desa Piriang, salah satu desa terpencil yang ada
di kecamatan Tutar Kabupaten Polewali Mandar-Sulawesi barat. Jalan-jalan kecil
dilapisi beton kerikil berkelok-kelok terlihat seperti ular raksasa yang sedang
lapar mencari mangsa. Udara dingin menembus kulit serta diselimuti kabut tipis
menjadi fenomena alam yang cukup unik dari desa ini.
Tak hanya fenomena alamnya yang indah, potensi
Sumber daya Alam (SDA) dari desa ini pun istimewa. Ribuan bahkan jutaan pohon
kakao yang menjadi komoditi masyarakat setempat berjejer memanjakan mata sepanjang
perjalanan. Selain potensi kakaonya yang begitu menarik, desa pirian juga
dikenal dengan surganya Durian. Tak ayal banyak para penjual durian
berlomba-lomba membeli durian karena mereka bisa mendapatkannya dengan harga
yang sangat murah dan kemudian untuk dijual kembali di kota dengan hasil yang
cukup menjanjikan
Mengabdi di Tanah Persembunyian
Mereka benar-benar menyatu dengan alam, tak
ada fasilitas modern untuk mengembangkan diri. Tak ada laptop, tak ada gadget,
tak ada Playstation (PS), tak ada mall, televisi hanya ada di beberapa rumah,
itupun menyala ketika malam hari sekitar 2 sampi 3 jam bagi tempat yang punya
mesin genset.
Listrik di sini nyaris tidak ada,
pasalnya PLTA yang mereka andalkan dari
PNPM hancur diluluh-lantahkan oleh longsor ketika Juni lalu. Dan kini hanya ada
beberapa rumah yang masih mengandalkan mesin Genset sebagai penerang di kala
malam, sisanya hanya bisa pasrah dengan cahaya seadanya dari “lampu minyak
tanah”. Namun beruntung karena berda ditempat ketinggian, untuk mendapatkan
signal masih ada walaupun sangat lemah.
Tetapi. Segala keterbatasan itu tak membatasi
anak-anak Piriang untuk maju. Semangat belajar mereka begitu tinggi lebih-lebih
ketika ada guru SGI yang membawa nuansa baru dan kecerian bagi anak-anak
pelosok. Mereka tak bersedih walaupun tinggal di tempat terpencil. Dengan modal
semangat itu, mereka bangga menjadi anak pegunungan di pelosok Indonesia.
Merekan pun percaya bahwa pada suatu hari kelak akan menjadi “sesuatu” bagi
bangsa ini.
Orang-orang memangginya “Ojek Sakti”
Selain berda di pelosok, akses jalan menuju
desa Piriang pun cukup ekstrim. “ojek dek-ojek dek” seru beberapa orang sambil
mendekat yang terlihat menawarkan jasanya untuk mengantar guru SGI-Hakkin dan Rahmat.
“Mau kemana dek?” lontaran pertanyaan dari salah seorang ojek. “mau ke desa
Piriang dan Besoangin” seru Hakkin menjawab pertanyaan. “waduh…jauh dan bahaya
dek” gumalan seorang ojek lainnya. Itulah beberepa potongan percakapan hakkin
dengan beberapa tukang ojek yang ada di desa Mapilli. Hampir semua tukang ojek yang
mendekat berangsur-angsur menjauh mendengar kata Pirian dan Besoangin. Bahkan
ada ojek yang berkata walaupun ongkosnya 300 ribu ia tidak akan mau dan
sanggup.
Berbeda dengan tukang ojek yang lain, tidak
dengan pak Kiming dan pak Ali. Dua orang ojek ini malah berantusias untuk siap
mengantarkan guru SGI bahkan sampai desa Besoangin pun. Mereka berdua sudah 5
tahun belakangan ini mengantar penumpang yang berasal dari pegunungan bahkan
mengelilingi gunung pun mereka sudah rasakan dengan sepeda motor yang modelnya
sederhana tapi cukup unik (dimodivikasi). Orang-orang mandar biasanya memanggilnya
“si Ojek Skati”. Julukan itu tidak serta muncul begitu saja, konon sebelum
jalanan masih penuh dengan hutan belukar pak Kiming sudah melakoni rute turun
naik gunung membawa penumpang sedangkan yang lain tidak ada yang berani. Hanya orang-orang yang
memiliki keahliah khusus bisa menerobos kondisi sepanjang perjalanan di
kecamatan Tutar. Dengan kisah itulah sampai sekarang ia dijuluki “si Ojek Sakti”.
Banyak faktor yang memnyebakan orang berfikir
seratus kali menuju desa Piriang dan Besoangain. Selain jaraknya yang cukup
jauh, jalan yang harus dilalui untuk bisa ke desa ini membutuhkan adrenalin
besar dan fisik yang kuat. Pasalnya kondisi jalan yang berbatu, naik turun,
berlubang, suhu dingin yang cukup menusuk tulang, melewati derasnya aliran sungai
dengan rakit bambu serta salah satu rute tepat berada di puncak perbukitan
dengan dalamnya jurang di samping kiri-kanan jalan. Kondisi hutan belantara, pohon-pohon raksasa
sepanjang perjalanan bikin jantung berdetak kencang.
Jika sepeda motor berlari dengan kecepatan 80
km per jam di jalan yang mulus, itu hal biasa, dengan kondisi jalan yang cukup
parah menuju desa Piriang dan Besoangin, Pak Kiming dan Pak Ali si Ojek Sakti pun
mengendarai motornya dengan kecepatan 80 km per jam juga bahkan lebih tanpa ada
rasa takut sedikitpun. Sebagai penumpang yang berada di belakang hanya bisa
berdoa semoga selamat sampai tujuan. Yang lebih spesial lagi dari merekan
adalah jika motor yang lain menyebrang menggunakan rakit bambu dengan membayar ongkos penyebrangan,
mereka malah menerobus desarnya aliran sungai tanpa ada was-was mesin motor
mati di pertengan sungai yang bisa menyebabkan hanyutnya motor.
Dan kini, setiap kali ingin pergi ke Pririang
ataupun Besoangin, salah satu dari kedua ojek sakti tersebut selalu setia
mengantar kami. Harga ongkosnyapun cukup terjangkau. Berkisar dari seratus
ribuan, kita sudah bisa menikmati layanan si ojek sakti pak Kiming dan pak Ali.
Harga itu sebenarnya tidak cukup mengingat konsisi yang cukup parah. Dan bisa
jadi dengan harga yang segitu hanya untuk memperbaiki bagian motor yang diterpa
jalan bebatuan dan bahan bakar yang terpakai. Semoga dengan keikhlasanya
pengantarkan para pejuang muda guru-guru SGI memberikan energi yang terutama bagi
pendidikan di pelosok negeri ini.[]










0 comments:
Post a Comment