Sunday, 5 October 2014

Guru SGI dan Ojek Sakti


Haparan awan putih dan biru bercampur hijau membentang sejauh mata memanadang. Gundukan-gundukan bukit nempak menjulang tinggi ketika tepat berada di desa Piriang, salah satu desa terpencil yang ada di kecamatan Tutar Kabupaten Polewali Mandar-Sulawesi barat. Jalan-jalan kecil dilapisi beton kerikil berkelok-kelok terlihat seperti ular raksasa yang sedang lapar mencari mangsa. Udara dingin menembus kulit serta diselimuti kabut tipis menjadi fenomena alam yang cukup unik dari desa ini.
Tak hanya fenomena alamnya yang indah, potensi Sumber daya Alam (SDA) dari desa ini pun istimewa. Ribuan bahkan jutaan pohon kakao yang menjadi komoditi masyarakat setempat berjejer memanjakan mata sepanjang perjalanan. Selain potensi kakaonya yang begitu menarik, desa pirian juga dikenal dengan surganya Durian. Tak ayal banyak para penjual durian berlomba-lomba membeli durian karena mereka bisa mendapatkannya dengan harga yang sangat murah dan kemudian untuk dijual kembali di kota dengan hasil yang cukup menjanjikan
Mengabdi di Tanah Persembunyian
Hakkin adalah Relawan Sekolah Guru Indonesia (SGI) yang mendapat tugas pengabdian di desa Piriang. Desa yang memiliki arti tempat persembunyian karena latar belakang sejarah adalah tempatnya orang-orang besembunyi pada masa penjajahan jauh ketika sebelum kemerdekaan. Selama satu tahun ditugaskan untuk mengajar, mendidik dan memimpin. Mengajar di SDN 022 Pirian serta melakukan pemberdayaan masyarakat disalah satu desa yang ada di Tutar. Dengan segala keunikan desa ini, ada hal krusial yang menjadikan mereka sosok-sosk luar biasa. Terutama anak-anak pegunungan yang berbeda dengan anak-anak di perkotaan
Mereka benar-benar menyatu dengan alam, tak ada fasilitas modern untuk mengembangkan diri. Tak ada laptop, tak ada gadget, tak ada Playstation (PS), tak ada mall, televisi hanya ada di beberapa rumah, itupun menyala ketika malam hari sekitar 2 sampi 3 jam bagi tempat yang punya mesin genset.
Listrik di sini nyaris tidak ada, pasalnya  PLTA yang mereka andalkan dari PNPM hancur diluluh-lantahkan oleh longsor ketika Juni lalu. Dan kini hanya ada beberapa rumah yang masih mengandalkan mesin Genset sebagai penerang di kala malam, sisanya hanya bisa pasrah dengan cahaya seadanya dari “lampu minyak tanah”. Namun beruntung karena berda ditempat ketinggian, untuk mendapatkan signal masih ada walaupun sangat lemah.
Tetapi. Segala keterbatasan itu tak membatasi anak-anak Piriang untuk maju. Semangat belajar mereka begitu tinggi lebih-lebih ketika ada guru SGI yang membawa nuansa baru dan kecerian bagi anak-anak pelosok. Mereka tak bersedih walaupun tinggal di tempat terpencil. Dengan modal semangat itu, mereka bangga menjadi anak pegunungan di pelosok Indonesia. Merekan pun percaya bahwa pada suatu hari kelak akan menjadi “sesuatu” bagi bangsa ini.
Orang-orang memangginya “Ojek Sakti”
Selain berda di pelosok, akses jalan menuju desa Piriang pun cukup ekstrim. “ojek dek-ojek dek” seru beberapa orang sambil mendekat yang terlihat menawarkan jasanya untuk mengantar guru SGI-Hakkin dan Rahmat. “Mau kemana dek?” lontaran pertanyaan dari salah seorang ojek. “mau ke desa Piriang dan Besoangin” seru Hakkin menjawab pertanyaan. “waduh…jauh dan bahaya dek” gumalan seorang ojek lainnya. Itulah beberepa potongan percakapan hakkin dengan beberapa tukang ojek yang ada di desa Mapilli. Hampir semua tukang ojek yang mendekat berangsur-angsur menjauh mendengar kata Pirian dan Besoangin. Bahkan ada ojek yang berkata walaupun ongkosnya 300 ribu ia tidak akan mau dan sanggup.
Berbeda dengan tukang ojek yang lain, tidak dengan pak Kiming dan pak Ali. Dua orang ojek ini malah berantusias untuk siap mengantarkan guru SGI bahkan sampai desa Besoangin pun. Mereka berdua sudah 5 tahun belakangan ini mengantar penumpang yang berasal dari pegunungan bahkan mengelilingi gunung pun mereka sudah rasakan dengan sepeda motor yang modelnya sederhana tapi cukup unik (dimodivikasi). Orang-orang mandar biasanya memanggilnya “si Ojek Skati”. Julukan itu tidak serta muncul begitu saja, konon sebelum jalanan masih penuh dengan hutan belukar pak Kiming sudah melakoni rute turun naik gunung membawa penumpang sedangkan yang lain  tidak ada yang berani. Hanya orang-orang yang memiliki keahliah khusus bisa menerobos kondisi sepanjang perjalanan di kecamatan Tutar. Dengan kisah itulah sampai sekarang ia dijuluki “si Ojek Sakti”.
Banyak faktor yang memnyebakan orang berfikir seratus kali menuju desa Piriang dan Besoangain. Selain jaraknya yang cukup jauh, jalan yang harus dilalui untuk bisa ke desa ini membutuhkan adrenalin besar dan fisik yang kuat. Pasalnya kondisi jalan yang berbatu, naik turun, berlubang, suhu dingin yang cukup menusuk tulang, melewati derasnya aliran sungai dengan rakit bambu serta salah satu rute tepat berada di puncak perbukitan dengan dalamnya jurang di samping kiri-kanan jalan. Kondisi hutan belantara, pohon-pohon raksasa sepanjang perjalanan bikin jantung berdetak kencang.
Jika sepeda motor berlari dengan kecepatan 80 km per jam di jalan yang mulus, itu hal biasa, dengan kondisi jalan yang cukup parah menuju desa Piriang dan Besoangin, Pak Kiming dan Pak Ali si Ojek Sakti pun mengendarai motornya dengan kecepatan 80 km per jam juga bahkan lebih tanpa ada rasa takut sedikitpun. Sebagai penumpang yang berada di belakang hanya bisa berdoa semoga selamat sampai tujuan. Yang lebih spesial lagi dari merekan adalah jika motor yang lain menyebrang menggunakan rakit  bambu dengan membayar ongkos penyebrangan, mereka malah menerobus desarnya aliran sungai tanpa ada was-was mesin motor mati di pertengan sungai yang bisa menyebabkan hanyutnya motor.
Dan kini, setiap kali ingin pergi ke Pririang ataupun Besoangin, salah satu dari kedua ojek sakti tersebut selalu setia mengantar kami. Harga ongkosnyapun cukup terjangkau. Berkisar dari seratus ribuan, kita sudah bisa menikmati layanan si ojek sakti pak Kiming dan pak Ali. Harga itu sebenarnya tidak cukup mengingat konsisi yang cukup parah. Dan bisa jadi dengan harga yang segitu hanya untuk memperbaiki bagian motor yang diterpa jalan bebatuan dan bahan bakar yang terpakai. Semoga dengan keikhlasanya pengantarkan para pejuang muda guru-guru SGI memberikan energi yang terutama bagi pendidikan di pelosok negeri ini.[]

0 comments:

Post a Comment