Saturday, 25 July 2015

BELAJAR DARI PUTRI MALU




Kabut pagi masih menyelimuti Desa Piriang, salah satu desa terpencil yang ada di kecamatan Tubbi Taramanu (tutar) Kabupaten Polewali Mandar SULBAR, desa diamana aku ditempatkan dengan penuh pesonanya. Tak terasa sudah sebulan lebih aku mendiami daerah ini sebagai relawan Sekolah Guru Indonesia (SGI) Dompet Dhuafa.
Meski sudah lebih sebulan, tetapi proses belajar belajar mengajar belum aktif dikarenakan masih suasana libur Bulan Ramadhan dan ‘Idul Fitri.
Pagi itu cuaca cukup dingin, maklum karena desa ini merupakan salah satu desa yang berada di ketinggian lebih dari 1500 m di atas permukaan air laut.
Sekitar pukul 07.15 aku sudah siap mengayunkan langkah kaki menuju sekolah pengabdianku, SDN 022 Inp. Piriang. Dan hari ini adalah hari yang kunanti selama sebulan lebih yaitu mengajar anak-anak pelosok dengan segala kesederhanaannya dan keunikannya.
“Hai pak guru” salah seorang siswa menyapaku dengan senyum manis namun tidak begitu terlihat jelas setibaku di gerbang sekolah. Dengan perlahan aku menghampirinya.
“Menna sangamu (siapa namamu)?” sambil memegang pundak siswa tersebut dengan sedikit bahasa mandar yang ku pelajari selam sebulan tinggal disini. “Munawir pak guru” jawabnya lugu. “Kelas berapa” lanjutku. “kelas unnu (enam)” jawabnya.
“Kalau ketemu ibu guru atau pak guru ucapkan Assalamualaikum pak guru” lanjutku memberikan nasehat. “Coba di ulang” perintahku. “Asslamualaikum pak guru” ucapnya. “Nah itu baru namanya anak cakep” sahutku sambil memberikan pujian.
Jam di kantor menunjukkan pukul 08.00 pertanda jam masuk sudah tiba.  “Teng...teng...teng....” bel sekolah berbunyi ketika dipukul oleh salah seorang guru yang ada di kantor. Hari itu jadwalku masuk di kelas V mengajarkan pelajaran IPA tetapi masuk setelah jam istirahat. Jadilah pagi itu aku berkeliling di sekitar sekolah untuk melihat kondisi sekolah selama proses pembelajaran. Belum sepuluh menit salah seorang guru keluar kelas sambil menampakkan muka geram. “kenapa keluar buk? emang pelajarannya sudah selesesai?” tanyaku. Itu pak anak-anak kelas VI nakal-nakal dan ndak mau diajar” sahut bu Saniati. Bu Saniati adalah wali kelas VI yang ditugaskan pada tahun ajaran ini.
“Masak sih bu” sahutku penasaran. Ya pak, masuk aja kalu tidak percaya.
Sejenak kuperhatikan kondisi kelasnya begitu ramai dengan aksi anak-anak yang sudah diberi lebel nakal oleh wali kelasnya. Akupun berpikir kenapa bisa seperti ini. Salah satunya adalah anak yang kutemuai digerbang kelas tadi, Munawir. “pantas saja guru nya keluar jika kondisinya seperti ini, ribut dan tak terarah” gumalanku dalam hati.
“Assalamualaikum anak-anak hebat” salamku memecahkan aksi mereka di kelas. Mereka langsung berlari menuju tempat duduknya masing-masing. “Kok salam bapak ndak di jawab” lanjutku memcahkan kesunyian. Dengan agak malu akhirnya ada juga yang menjawab “Waalaikumussalam pak”.
“Siapa yang mau belajar sama bapak” tanyaku. Hanya beberapa saja yang mengangkat tangan. Inisiatip ini aku ambila agar kekosongan guru yang keluar tadi bisa teratasi. Jadilah kami belajar pagi itu dengan persiapan seadanya.
Memang bukan rahasia lagi kalu kelas ini dijuluki anak-anak bandel oleh gurunya lantaran sifat anak-anak yang yang begitu aktif. Tetapi bagiku hal tersebut bukanlah bentuk kenakalan melainkan teknik atau gaya belajar kinestetik sebagaimana yang akau pelajari ketika pembinaan di SGI.
Jumlah siswa yang cukup banyak sekitar 30 siswa lebih memang cukup merepotkan apalagi gaya belajar anak-anak kelas VI ini sebagian besar adalah kinestetik (bergerak) yang tidak tahan kalu lama-lama diam. Dengan kondisi seperti ini aku berusaha berfikir agar bisa mengkondisikan mereka sesuai dengan gaya belajarnya.
Selepas belajar bersama mereka, jam istirahat pun tiba. Akhirnya tak bisa berbuat banyak untuk mengontrol mereaka meski suara ku sudah agak serak. Ketika bertemu dengan wali kelas nya di kantor, aku berusaha mencari informasi lebih tentang keseharian anak-anak itu. Dari informasi yang ku dapatkan, anak-anak tersebut memang kurang mengutamakan sekolah karena kalau dirumah meraka fukus ke kebun membantu orang tua dan banyak bermain bersama teman-teman sejawatnya.
Akupun langsung punya ide bagaimana agar mereka lebih bersemangat lagi untuk belajar. Sore harinya setelah pulang sekolah aku menelusuri jalan sepanjang perkampungan di sekitar sekolah untuk mencari tanaman yang bisa dijadihan alat untuk pembelajaran esok harinya, karena dari jadwal yang ku terima ada jam mengajar aku di kelas VI. Lahkah demi langkah kutelusuri jalan tersebut, akhirnya aku menemukan bahan yang membantuku esok hari yaitu tumbuhan putri malu.
Malamnya aku mepersiapkan segalanya mulai dari RPP dan bahan tambahan seperti tulisan yang bertuliskan “aku senang belajar” dan dibungkus rapi dengan gulungan kertas warna yang dibuat cukup menarik mirip seperti peta harta karun.
Keesokan harinya aku datang lebih awal dari biasanya bahkan belum satu muridpun yang kutemui di sekolah. Hal ini aku lakukan agar bisa memasukkan gulungan kertas yang dibuat sebelumnya dibawah meja salah seorang siswa sebagai kejuatan untuk mereka.
Hari itu aku akan mengajarkan tentang ciri-ciri khusus makhluk hidup sesuai dengan silabus yang ada. Ketika masuk kelas aku bersikap berbeda dengan biasanya sesuai denga sekenario yang sudah ku susun.
Setelah membuka pelajaran dengan salam, doa dan mengabsen siswa, kami tidak langsung belajar, melainkan melakukan kegiatan games.
“Apa kabar nak-anak hebat” tanyaku. “Baik pak” jawab sebgian siswa. “Kalau ditanya kabat jawabnya Alhamdulillah...Luar Bisa...yes...yes...yes” seruku menjelaskan. Setelah di ulang tidak kusangka mereka antusias melaksanakan Ice Breaking ini. Langkah pertama berjalan mulus.
Lanjut ke langkah yang ke dua. “Siapa yang mau hadiah” tanyaku. “saya pak” semua bersorak acungkan tangan. “Silahkan cari seuatu yang nempel dibawah meja kalian” perintahku. “Yes aku dapat” sahut salah seorang siswa mendapat gulungan kertas dibawah mejanya. Siswa yang lain pun akhirnya berusaha mencari hal sama sampai pojok-pojok kelas. Namun karena Cuma satu yang aku persiapkan, sehingga mereka menyerah dengan muka yang lesu.
“Silahkan yang mendapat hadiah berupa peta harta karun maju!” pintaku. Paisal yang kebelutan mendapatkan gulungan kertaa itupun langsung menuju ke depan kelasnya. Dengan perlahan Piasal membuka ikat kertas tersebut dan menunjukkan ke teman-temanya. Semuanya langsung terfukus pada tulisan kertas tersebut.
“silakkan dibaca yang keras ya anak-anak!” sahutku. “AKU SENANG BELAJAR” teriakan anak-anak itu membaca isi kertas tersebut. Belum hilang rasa penasaran mereka aku pun laangsung berucap “karena kalian senang belajar, maka hari ini kita buat pejarannya menjadi senang, kaling siap...?” tanyaku. “Siap pak guru” jawaban kompak yang aku teriama semakin membebuat bersemangat. Lantas siswa-siswa itu aku ajak keluar kelas menuju tempak yang sudah ku surve sebelumnya.
“Kita mau kemana pak” tanya salah seorang siswa.
“Kita akan jalan-jalan nak” jawabku.
“Hore....”sorak gembira yang keluar dari siswa-siswa terseut.
Ketika samapai ditempat yang sudah akau persiapkan sebelumnya, semua siswa aku minta berhenti persis di samping tumbuhan putri malu.
“Tumbuhan apa ini anak-anak?” tanyaku. Merekan pun menjawab sesuai dengan apa yang ditahu. Dan hampir jawabnya salah semua. Akhirnya aku pun menjelaskan nama tumbuhan itu. “ini adalah tumbuhan putri malu” jelasku. “O...gitu to pak”
“Coba Paisal yang mendapatkan kertas tadi, silahkan berdiri disamping tumbuhan ini”. Pintaku. “Siap pak” jawabnya. Teman-temanya yang lain pun memperhatikan.
“anak-anak coba perhatikan” seruku. Semua siswa menunggu dengan penuh kesungguhan yang akan aku lakukan. Hati ini bersorak riang ketika melihat reaksi mereka yang penuh perhatian dan fokus menunggu aksiku. Tak pernah terbayang sebelumnya, anak-anak yang penuh tingkah dengan segala kegiatannya yang membuat kegaduhan kelas dan cuek dengan pelajaran yang ada, kini mereka seperti terhipnotis oleh apa yang aku lakukan.
“Bukan sulap bukan sihir”teriakku sambil menyentuh daun putri malu tersebut. “Mangaka Do’o (Mengapa bisa begitu)” sahut salah seorang siswa dengan penuh keheranan. Anak-anak tertegun melihat perubahan pada putri malu tersebut ketiak disentuh dari segar menjadi layu, seperti sulap katanya. Tak ter elakan anak-anakpun mencobanya menyentuh daun yang belum layu. Tumbuhan putri malu di tempat ini memang cukup banyak. Tetapi sayang mereka jarang ada yang mengetahui
“Pak kok bisa begitu” tanya beberapa siswa. Akhirnya aku pun langsung masuk ke materi yang ditunggu-tunggu yaitu tentang ciri-ciri khusus makhluk hidup misalnya pada tumbuhan putri malu yang akan mengatupkan daunnya seperti layu jika terkena sentuhan atau rangsangan. Mereka pun memahami apa yang aku sampaikan.
Sejak pembelajaran itu, siswa-siswa ini semakin semangat belajar, apalagi setelah menerapkan tokken ekonomi dan peraturan kelas yang positif.
Dan di setiap pembelajaran yang aku lakukan aku berusaha menampilkan alat peraga alamiah sesuai dengan apa yang ada di sekitar mereka.
Misalnya ketika materi tentang pertumbuhan dan perkembangan. Mereka sa suruh membawa empat biji kacang ijo dan saya hanya menyiapkan botol bekas serta sebuah kardus bekas. Dua biji, saya tanam di pot botol dengan keadaan terbuka alias terkena dengan cahaya matahari dan sisanya saya tanam di pot botol dengan keadaan tertutup rapat di dalam kardus bekas tanpa terkena cahaya matahari.
Alhasil dua jenis kecambah pun hadir seperti menyihir mata mereka yang melihatnya setelah tunasnya tumbuh. “Wow keren” ungkapan salah seorang siswa ketika melihat keunikan ini.
Meski begitu, sebagian guru masih saja memberikan lebel nakal kepada mereka. Padahal kitalah yang semestinya berkaca, bagaimana hal ini harus kita ubah.
Mestakung (semesta mendukung) merupakan ungkapan yang pas untuk memberikan pejaran kepada anak-anak didik kita. Karena alam ini meyediakan segalanya untuk kita gunakan. Jangan dengan alasan terpencil, tidak ada alat lengkap, mematahkan kreativitas kita sebagai guru. Semoga para guru di negeri ini semakin sadar akan tugas dan tanggung jawabnya sebagai agen perubahan sebuah bangsa sehingga menghasilkan siswa yang penuh semangat dalam menuntut ilmu. []

0 comments:

Post a Comment