Kabut pagi masih menyelimuti Desa Piriang, salah satu desa terpencil yang
ada di kecamatan Tubbi Taramanu (tutar) Kabupaten Polewali Mandar SULBAR, desa
diamana aku ditempatkan dengan penuh pesonanya. Tak terasa sudah sebulan lebih aku
mendiami daerah ini sebagai relawan Sekolah Guru Indonesia (SGI) Dompet Dhuafa.
Meski sudah lebih sebulan, tetapi proses belajar belajar mengajar belum
aktif dikarenakan masih suasana libur Bulan Ramadhan dan ‘Idul Fitri.
Pagi itu cuaca cukup dingin, maklum karena desa ini merupakan salah satu
desa yang berada di ketinggian lebih dari 1500 m di atas permukaan air laut.
Sekitar pukul 07.15 aku sudah siap mengayunkan langkah kaki menuju sekolah
pengabdianku, SDN 022 Inp. Piriang. Dan hari ini adalah hari yang kunanti
selama sebulan lebih yaitu mengajar anak-anak pelosok dengan segala kesederhanaannya
dan keunikannya.
“Hai pak guru” salah seorang siswa menyapaku dengan senyum manis namun
tidak begitu terlihat jelas setibaku di gerbang sekolah. Dengan perlahan aku
menghampirinya.
“Menna sangamu (siapa namamu)?” sambil memegang pundak siswa tersebut
dengan sedikit bahasa mandar yang ku pelajari selam sebulan tinggal disini.
“Munawir pak guru” jawabnya lugu. “Kelas berapa” lanjutku. “kelas unnu (enam)”
jawabnya.
“Kalau ketemu ibu guru atau pak guru ucapkan Assalamualaikum pak guru”
lanjutku memberikan nasehat. “Coba di ulang” perintahku. “Asslamualaikum pak
guru” ucapnya. “Nah itu baru namanya anak cakep” sahutku sambil memberikan
pujian.
Jam di kantor menunjukkan pukul 08.00 pertanda jam masuk sudah tiba. “Teng...teng...teng....” bel sekolah berbunyi
ketika dipukul oleh salah seorang guru yang ada di kantor. Hari itu jadwalku
masuk di kelas V mengajarkan pelajaran IPA tetapi masuk setelah jam istirahat.
Jadilah pagi itu aku berkeliling di sekitar sekolah untuk melihat kondisi
sekolah selama proses pembelajaran. Belum sepuluh menit salah seorang guru
keluar kelas sambil menampakkan muka geram. “kenapa keluar buk? emang
pelajarannya sudah selesesai?” tanyaku. Itu pak anak-anak kelas VI nakal-nakal
dan ndak mau diajar” sahut bu Saniati. Bu Saniati adalah wali kelas VI yang
ditugaskan pada tahun ajaran ini.
“Masak sih bu” sahutku penasaran. Ya pak, masuk aja kalu tidak percaya.
Sejenak kuperhatikan kondisi kelasnya begitu ramai dengan aksi anak-anak
yang sudah diberi lebel nakal oleh wali kelasnya. Akupun berpikir kenapa bisa
seperti ini. Salah satunya adalah anak yang kutemuai digerbang kelas tadi,
Munawir. “pantas saja guru nya keluar jika kondisinya seperti ini, ribut dan
tak terarah” gumalanku dalam hati.
“Assalamualaikum anak-anak hebat” salamku memecahkan aksi mereka di kelas.
Mereka langsung berlari menuju tempat duduknya masing-masing. “Kok salam bapak
ndak di jawab” lanjutku memcahkan kesunyian. Dengan agak malu akhirnya ada juga
yang menjawab “Waalaikumussalam pak”.
“Siapa yang mau belajar sama bapak” tanyaku. Hanya beberapa saja yang
mengangkat tangan. Inisiatip ini aku ambila agar kekosongan guru yang keluar
tadi bisa teratasi. Jadilah kami belajar pagi itu dengan persiapan seadanya.
Memang bukan rahasia lagi kalu kelas ini dijuluki anak-anak bandel oleh
gurunya lantaran sifat anak-anak yang yang begitu aktif. Tetapi bagiku hal
tersebut bukanlah bentuk kenakalan melainkan teknik atau gaya belajar
kinestetik sebagaimana yang akau pelajari ketika pembinaan di SGI.
Jumlah siswa yang cukup banyak sekitar 30 siswa lebih memang cukup
merepotkan apalagi gaya belajar anak-anak kelas VI ini sebagian besar adalah
kinestetik (bergerak) yang tidak tahan kalu lama-lama diam. Dengan kondisi
seperti ini aku berusaha berfikir agar bisa mengkondisikan mereka sesuai dengan
gaya belajarnya.
Selepas belajar bersama mereka, jam istirahat pun tiba. Akhirnya tak bisa
berbuat banyak untuk mengontrol mereaka meski suara ku sudah agak serak. Ketika
bertemu dengan wali kelas nya di kantor, aku berusaha mencari informasi lebih
tentang keseharian anak-anak itu. Dari informasi yang ku dapatkan, anak-anak
tersebut memang kurang mengutamakan sekolah karena kalau dirumah meraka fukus
ke kebun membantu orang tua dan banyak bermain bersama teman-teman sejawatnya.
Akupun langsung punya ide bagaimana agar mereka lebih bersemangat lagi
untuk belajar. Sore harinya setelah pulang sekolah aku menelusuri jalan
sepanjang perkampungan di sekitar sekolah untuk mencari tanaman yang bisa dijadihan
alat untuk pembelajaran esok harinya, karena dari jadwal yang ku terima ada jam
mengajar aku di kelas VI. Lahkah demi langkah kutelusuri jalan tersebut,
akhirnya aku menemukan bahan yang membantuku esok hari yaitu tumbuhan putri
malu.
Malamnya aku mepersiapkan segalanya mulai dari RPP dan bahan tambahan
seperti tulisan yang bertuliskan “aku senang belajar” dan dibungkus rapi
dengan gulungan kertas warna yang dibuat cukup menarik mirip seperti peta harta
karun.
Keesokan harinya aku datang lebih awal dari biasanya bahkan belum satu
muridpun yang kutemui di sekolah. Hal ini aku lakukan agar bisa memasukkan
gulungan kertas yang dibuat sebelumnya dibawah meja salah seorang siswa sebagai
kejuatan untuk mereka.
Hari itu aku akan mengajarkan tentang ciri-ciri khusus makhluk hidup sesuai
dengan silabus yang ada. Ketika masuk kelas aku bersikap berbeda dengan
biasanya sesuai denga sekenario yang sudah ku susun.
Setelah membuka pelajaran dengan salam, doa dan mengabsen siswa, kami tidak
langsung belajar, melainkan melakukan kegiatan games.
“Apa kabar nak-anak hebat” tanyaku. “Baik pak” jawab sebgian siswa. “Kalau
ditanya kabat jawabnya Alhamdulillah...Luar Bisa...yes...yes...yes” seruku
menjelaskan. Setelah di ulang tidak kusangka mereka antusias melaksanakan Ice
Breaking ini. Langkah pertama berjalan mulus.
Lanjut ke langkah yang ke dua. “Siapa yang mau hadiah” tanyaku. “saya pak”
semua bersorak acungkan tangan. “Silahkan cari seuatu yang nempel dibawah meja
kalian” perintahku. “Yes aku dapat” sahut salah seorang siswa mendapat gulungan
kertas dibawah mejanya. Siswa yang lain pun akhirnya berusaha mencari hal sama
sampai pojok-pojok kelas. Namun karena Cuma satu yang aku persiapkan, sehingga mereka
menyerah dengan muka yang lesu.
“Silahkan yang mendapat hadiah berupa peta harta karun maju!” pintaku.
Paisal yang kebelutan mendapatkan gulungan kertaa itupun langsung menuju ke
depan kelasnya. Dengan perlahan Piasal membuka ikat kertas tersebut dan
menunjukkan ke teman-temanya. Semuanya langsung terfukus pada tulisan kertas
tersebut.
“silakkan dibaca yang keras ya anak-anak!” sahutku. “AKU SENANG BELAJAR”
teriakan anak-anak itu membaca isi kertas tersebut. Belum hilang rasa penasaran
mereka aku pun laangsung berucap “karena kalian senang belajar, maka hari ini
kita buat pejarannya menjadi senang, kaling siap...?” tanyaku. “Siap pak guru”
jawaban kompak yang aku teriama semakin membebuat bersemangat. Lantas
siswa-siswa itu aku ajak keluar kelas menuju tempak yang sudah ku surve sebelumnya.
“Kita mau kemana pak” tanya salah seorang siswa.
“Kita akan jalan-jalan nak” jawabku.
“Hore....”sorak gembira yang keluar dari siswa-siswa terseut.
Ketika samapai ditempat yang sudah akau persiapkan sebelumnya, semua siswa
aku minta berhenti persis di samping tumbuhan putri malu.
“Tumbuhan apa ini anak-anak?” tanyaku. Merekan pun menjawab sesuai dengan
apa yang ditahu. Dan hampir jawabnya salah semua. Akhirnya aku pun menjelaskan
nama tumbuhan itu. “ini adalah tumbuhan putri malu” jelasku. “O...gitu to pak”
“Coba Paisal yang mendapatkan kertas tadi, silahkan berdiri disamping
tumbuhan ini”. Pintaku. “Siap pak” jawabnya. Teman-temanya yang lain pun
memperhatikan.
“anak-anak coba perhatikan” seruku. Semua siswa menunggu dengan penuh
kesungguhan yang akan aku lakukan. Hati ini bersorak riang ketika melihat
reaksi mereka yang penuh perhatian dan fokus menunggu aksiku. Tak pernah
terbayang sebelumnya, anak-anak yang penuh tingkah dengan segala kegiatannya
yang membuat kegaduhan kelas dan cuek dengan pelajaran yang ada, kini mereka
seperti terhipnotis oleh apa yang aku lakukan.
“Bukan sulap bukan sihir”teriakku sambil menyentuh daun putri malu
tersebut. “Mangaka Do’o (Mengapa bisa begitu)” sahut salah seorang siswa dengan
penuh keheranan. Anak-anak tertegun melihat perubahan pada putri malu tersebut
ketiak disentuh dari segar menjadi layu, seperti sulap katanya. Tak ter elakan
anak-anakpun mencobanya menyentuh daun yang belum layu. Tumbuhan putri malu di
tempat ini memang cukup banyak. Tetapi sayang mereka jarang ada yang mengetahui
“Pak kok bisa begitu” tanya beberapa siswa. Akhirnya aku pun langsung masuk
ke materi yang ditunggu-tunggu yaitu tentang ciri-ciri khusus makhluk hidup
misalnya pada tumbuhan putri malu yang akan mengatupkan daunnya seperti layu
jika terkena sentuhan atau rangsangan. Mereka pun memahami apa yang aku
sampaikan.
Sejak pembelajaran itu, siswa-siswa ini semakin semangat belajar, apalagi
setelah menerapkan tokken ekonomi dan peraturan kelas yang positif.
Dan di setiap pembelajaran yang aku lakukan aku berusaha menampilkan alat
peraga alamiah sesuai dengan apa yang ada di sekitar mereka.
Misalnya ketika materi tentang pertumbuhan dan perkembangan. Mereka sa suruh
membawa empat biji kacang ijo dan saya hanya menyiapkan botol bekas serta
sebuah kardus bekas. Dua biji, saya tanam di pot botol dengan keadaan terbuka
alias terkena dengan cahaya matahari dan sisanya saya tanam di pot botol dengan
keadaan tertutup rapat di dalam kardus bekas tanpa terkena cahaya matahari.
Alhasil dua jenis kecambah pun hadir seperti menyihir mata mereka yang
melihatnya setelah tunasnya tumbuh. “Wow keren” ungkapan salah seorang siswa
ketika melihat keunikan ini.
Meski begitu, sebagian guru masih saja memberikan lebel nakal kepada
mereka. Padahal kitalah yang semestinya berkaca, bagaimana hal ini harus kita
ubah.
Mestakung (semesta mendukung) merupakan ungkapan yang pas untuk memberikan
pejaran kepada anak-anak didik kita. Karena alam ini meyediakan segalanya untuk
kita gunakan. Jangan dengan alasan terpencil, tidak ada alat lengkap, mematahkan
kreativitas kita sebagai guru. Semoga para guru di negeri ini semakin sadar akan
tugas dan tanggung jawabnya sebagai agen perubahan sebuah bangsa sehingga
menghasilkan siswa yang penuh semangat dalam menuntut ilmu. []










0 comments:
Post a Comment