Saturday, 1 August 2015

Sudah Merdekakah Negeriku?



Tanggal 17 Agustus baru saja berlalu,  berbagai kegiatan dalam rangka memperingati hari bersejarah bagi bangsa Indonesia ini tak pernah sepi, ini terlihat dari hiasan merah-putih yang tersebar dimana-mana. Semarak pertandingan dan perlombaan untuk memeriahkannya pun begitu terasa. Tak ayal, setiap sekolah mempersiapkan anak-anak didiknya yang akan diutus untuk mengituki perlombaan dengan harapan membawa nama baik sekolah. Lebih dari itu, menjadi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (PASKIBRAKA) mulai dari tingkat kecamatan hingga nasional yang mewakili daerah masing-masing merupakan suatu kebanggaan bagi mereka siswa-siswa SMA jika tergabung didalamnya.
Tetapi hal tersebut tak semuanya kita bisa nikmatai apalagi kalau di daerah yang jangkaunnya masuk dalam kategogi terpencil. Melihat Indonesia sekarang ini, ada pertanyaan besar yang muncul apakah Indonesia benar-benar sudah merdeka atau tidak. Pertanyaan ini tidak serta muncul begitu saja melainkan banyak hal yang melatarbelakanginya. Ini bukan persoalan 70 tahun silam terkait dengan teks proklamasi yang dibacakan oleh Soekarno-Hatta, melainkan tentang bagaimana nasib Indonesia kedepannya.
Jika kita menelusuri makna kata merdeka dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) bahwa merdeka itu adalah bebas dari perhambaan, penjajahan atau tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu. Dalam arti kata, Indonesia memang sudah terbebas dari penjajahan sejak diproklamasikannya kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945 silam, tetapi coba kita bayangkan dengan apa yang nampak pada Bangsa kita dimasa kini, dimana korupsi masih merajalela, kemiskinan yang belum terselsaikan dan masalah sosial lainnya. Indonesia dikenal dengan Negara dengan Sumber Daya Alam yang begitu melimpah baik dari daratan maupun lautannya, tetapi miris masih banyak hal banyak hal kita mengiba dari Negara lain.
Pengalaman mengikuti program SGI-Dompet Dhuafa yang merupakan pengabdian menjadi relawan pendidikan di daerah kategori 3T (Terpencil, Terdalam, Tertinggal) di seluruh wilayah Indonesia baru benar-benar menyadari bahawa Indonesia jauh dari kata ‘merdeka’.

Saat ini ketika melakukan pengabdian disalah satu daerah terpencil di kecamatan Tubi taramanu (Tutar) dimana kecamatan ini merupakan salah satu kecamatan di kabupaten Polewali Mandar (Polman)-Sulawesi barat Dengan kategoti daerah kategoti 3T seakan  menggambarkan betapa nasib bangsa ini masih kocar-kacir.
Listrik yang hanya berjalan dari jam 6 sore hingga jam 10 malam menggunakan mesin diesel. Lepas waktu tersebut ini layaknya daerah mati yang tak berdaya. Seperti tak berdaya pendidikan disini.
Hampir  di setiap desa dari kecamatan Tutar ini sekolahnya cukup memprihatinkan. Bagaimana tidak, selain tenaga pendidikan yang masih kurang, beberapa sekolah dasar (SD) ruang belajarnya hanya 3 namun kelas yang harus ditampung sebanyak 6 kelas. Disisi lain juga di salah satu SD, guru yang mengajar hanya 2 orang satu diantaranya kelpala sekolah dengan status PNS dan yang satunya lagi guru honorer. Murid-murid SD kelas atas 4,5,6 bahkan yang beranjak ke SMP Ejaan mereka masih terbata-bata. Dan yang lebih parah ada beberapa diantaranya belum bisa membaca. 


Banyak orang yang mundur ketika ditugaskan ke tempat ini,  Sebab jauhnya jarak dan kondisi jalan yang cukup parah. Akses informasi dan jaringan hampir tidak ada kecuali di bagian puncak pegunungan masih bisa dapat signal walaupun hanya sedikit. Dan masih banyak lagi wajah Indonesia yang belum terlihat. Maka, mari bersama kembali hidupkan semangat kemerdekaan dengan mengabdi pada negeri dengan segala ketulusan jiwa. sebab, mengabdi merupakan satu jalan untuk dapat mendengar jeritan bangsa ini, “Apakah Aku Sudah Merdeka?”. Sebab jika bukan kita, siapa lagi?

0 comments:

Post a Comment