Tanggal
17 Agustus baru saja berlalu, berbagai
kegiatan dalam rangka memperingati hari bersejarah bagi bangsa Indonesia ini tak
pernah sepi, ini terlihat dari hiasan merah-putih yang tersebar dimana-mana. Semarak
pertandingan dan perlombaan untuk memeriahkannya pun begitu terasa. Tak ayal,
setiap sekolah mempersiapkan anak-anak didiknya yang akan diutus untuk
mengituki perlombaan dengan harapan membawa nama baik sekolah. Lebih dari itu,
menjadi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (PASKIBRAKA) mulai dari tingkat
kecamatan hingga nasional yang mewakili daerah masing-masing merupakan suatu
kebanggaan bagi mereka siswa-siswa SMA jika tergabung didalamnya.
Tetapi
hal tersebut tak semuanya kita bisa nikmatai apalagi kalau di daerah yang
jangkaunnya masuk dalam kategogi terpencil. Melihat Indonesia sekarang ini, ada
pertanyaan besar yang muncul apakah Indonesia benar-benar sudah merdeka atau
tidak. Pertanyaan ini tidak serta muncul begitu saja melainkan banyak hal yang
melatarbelakanginya. Ini bukan persoalan 70 tahun silam terkait dengan teks
proklamasi yang dibacakan oleh Soekarno-Hatta, melainkan tentang bagaimana
nasib Indonesia kedepannya.
Jika
kita menelusuri makna kata merdeka dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)
bahwa merdeka itu adalah bebas dari perhambaan, penjajahan atau tidak terikat,
tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu. Dalam arti kata, Indonesia
memang sudah terbebas dari penjajahan sejak diproklamasikannya kemerdekaan pada
tanggal 17 Agustus 1945 silam, tetapi coba kita bayangkan dengan apa yang nampak
pada Bangsa kita dimasa kini, dimana korupsi masih merajalela, kemiskinan yang
belum terselsaikan dan masalah sosial lainnya. Indonesia dikenal dengan Negara
dengan Sumber Daya Alam yang begitu melimpah baik dari daratan maupun
lautannya, tetapi miris masih banyak hal banyak hal kita mengiba dari Negara
lain.
Pengalaman
mengikuti program SGI-Dompet Dhuafa yang merupakan pengabdian menjadi relawan
pendidikan di daerah kategori 3T (Terpencil, Terdalam, Tertinggal) di seluruh
wilayah Indonesia baru benar-benar menyadari bahawa Indonesia jauh dari kata
‘merdeka’.
Saat
ini ketika melakukan pengabdian disalah satu daerah terpencil di kecamatan Tubi
taramanu (Tutar) dimana kecamatan ini merupakan salah satu kecamatan di
kabupaten Polewali Mandar (Polman)-Sulawesi barat Dengan kategoti daerah
kategoti 3T seakan menggambarkan betapa
nasib bangsa ini masih kocar-kacir.
Listrik
yang hanya berjalan dari jam 6 sore hingga jam 10 malam menggunakan mesin
diesel. Lepas waktu tersebut ini layaknya daerah mati yang tak berdaya. Seperti
tak berdaya pendidikan disini.
Hampir di setiap desa dari kecamatan Tutar ini
sekolahnya cukup memprihatinkan. Bagaimana tidak, selain tenaga pendidikan yang
masih kurang, beberapa sekolah dasar (SD) ruang belajarnya hanya 3 namun kelas
yang harus ditampung sebanyak 6 kelas. Disisi lain juga di salah satu SD, guru
yang mengajar hanya 2 orang satu diantaranya kelpala sekolah dengan status PNS
dan yang satunya lagi guru honorer. Murid-murid SD kelas atas 4,5,6 bahkan yang
beranjak ke SMP Ejaan mereka masih terbata-bata. Dan yang lebih parah ada
beberapa diantaranya belum bisa membaca.
Banyak orang yang mundur ketika ditugaskan ke tempat ini, Sebab jauhnya jarak dan kondisi jalan yang cukup parah. Akses informasi dan jaringan hampir tidak ada kecuali di bagian
puncak pegunungan masih bisa dapat signal walaupun hanya sedikit. Dan masih
banyak lagi wajah Indonesia yang belum terlihat. Maka, mari bersama kembali
hidupkan semangat kemerdekaan dengan mengabdi pada negeri dengan segala
ketulusan jiwa. sebab, mengabdi merupakan satu jalan untuk dapat mendengar
jeritan bangsa ini, “Apakah Aku Sudah Merdeka?”. Sebab jika bukan kita, siapa
lagi?












0 comments:
Post a Comment